| Seputar Maulid (Bagian 2) |
|
|
|
| Written by administrator | |||
| Saturday, 06 March 2010 19:44 | |||
|
Bagi umat Islam, tentu kelahiran Nabi SAW adalah peristiwa yang sangat penting. Karena, peristiwa itulah yang mengawali episode baru bagi kehidupan manusia. Nabi SAW adalah manusia luar biasa.Dia adalah nabi dan rasul yang telah diberi wahyu. Dia adalah pembawa risalah sekaligus penebar rahmat bagi seluruh alam. Oleh karena itu, kelahirannya sangat layak diperingati dan merupakan sebuah sikap pengagungan dan penghormatan (ta'zhiiman wa takriiman) terhadap Nabi SAW dalam kapasitasnya sebagai manusia pilihan; nabi dan asul Allah; sebagai pembawa risalah sekaligus penebar rahmat bagi seluruh alam. Katakanlah: "Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepada Nya dan mohonlah ampun kepada Nya. Dan, kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan Nya." (QS Fushshilat 6). Kelahiran Muhammad SAW tentu tidaklah bermakna apa-apa, seandainya dia tidak diangkat sebagai nabi dan rasul Allah yang bertugas menyampaikan wahyu Nya kepada manusia agar mau diatur dengan aturan apa saja yang telah diwahyukan Nya. Di samping itu, pengagungan dan penghormatan kepada Rasulullah Muhammad SAW yang antara lain diekspresikan dengan peringatan Maulid Nabi SAW. Sejatinya itu merupakan perwujudan kecintaan kepada Allah, karena Muhammad SAW adalah kekasih Nya. Karenanya menjadi suatu kewajiban bagi umat Islam untuk mengikuti sekaligus meneladani Nabi Muhammad SAW dalam seluruh aspek kehidupannya, bukan sekadar dalam aspek ibadah ritual dan akhlaknya. "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS al-Ahzab 21). Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosadosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS Ali Imran 31). Menurut Abdul A'la (2006), keteladanan tersebut dilakukan melalui pendekatan semiotis-hermeneutik agar umat Islam menguak substansi nilai yang dikembangkan Nabi dan inti dari setiap tindakan yang dilakukanya. Nilai dan tindakan itu lalu dikontekstualisasikan ke dalam situasi dan kondisi kekinian. Karena itu, mestinya peringatan maulid Nabi tidak hanya diadakan dan disikapi secara seremonial, yang terus berulang dari tahun ke tahun tanpa berimplikasi pada terjadinya perubahan substansial terhadap keberagamaan umat. Tetapi, peringatan maulid Nabi yang di dalamnya disampaikan biografi, akhlak, prilaku, dan perjuangannya dalam mendakwahkan Islam sejatinya memberikan pencerahan dan pemikiran yang berguna untuk masa depan umat Islam yang lebih baik. Umat Islam mesti menjadikan peringatan maulid Nabi (dan peringatan keagamaan lainnya) sebagai momentum sekaligus wahana reflektif untuk pengayaan spiritual, peningkatan amal ibadah, serta memperbaiki dan memperbaharui diri secara terus-menerus dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah. Sebab sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Taimiyah, sesungguhnya kesempurnaan cinta dan pengagungan terhadap Rasul SAW terletak pada azzam (kuatnya kehendak) ittiba' (mengikuti) jejak perjuangannya, ketaatan kepadanya, menjalankan perintahnya, menghidupkan sunnah dan menyebarkannya. Serta, berjihad dalam upaya tersebut baik dengan hati, tangan, maupun lisan.
|


